Angciu | Angciu Itu Apa? | Angciu Itu Halal Gak Sih?

Diposting pada
  Gambar botol angciu
Botol Angciu secara sepintas ibarat botol kecap, ada tulisannya ang ciu, dan gugusan aksara Mandarin. Angciu terbuat dari beras ketan yg difermentasi menjadi alkohol. Cita rasanya bagus dan berwarna kemerahan, sehingga sering juga disebut arak merah. Digunakan sebagai pemberi aroma mulai dari tumisan sayuran, nasi goreng, hingga mi goreng. Selain Ang ciu, yg termasuk arak beras ialah shaoxing (berasal dari daerah Shaoxing). Shaoxing pun umum digunakan untuk memasak. Kadar alkoholnya lebih tinggi dari ang ciu.


Narti mau mengulas Angciu aja yah. Nanya-nanya soal Angciu, Narti awali dgn bertanya kepada seorang teman di Jakarta sana. (Maaf, saya sebut Jakarta aja). Berikut ini tanggapan dari teman Narti:

Narti, angciu simpel dicari kok. Narti posisi ada di mana? Kalau di Indonesia, di pasar mana-mana ada kok. Bilang saja di toko yg jual-jual kecap asin, kecap manis, minyak goreng, dsb. Tanya saja angciu atau arak masak.


Kalau di luar negeri, coba ke Asian Groceries bilang ‘cooking wine‘ atau kalau yg punya orang Cina, coba tunjukkan goresan pena ini: 红酒 (bahasa Mandarin, dibaca: hung ciu).


Atau di Ranch Market, Farmers Market, Hero di Jakarta dan kota-kota lain ada juga. Hypermart atau Carrefour ada juga.


Setelah mendapatkan email itu, Narti sedikit ada gambaran, apa itu Angciu. Dia juga menjelaskan sebagai berikut:

Angciu intinya ialah hasil fermentasi ketan. Kalau ketan diragikan jadi tape, nah ini ialah air tape-nya. Makanya di Medan disebut juga dgn air tape, arak masak.

Baca Lanjutan:  Mengenal Tepung Terigu Protein Rendah, Sedang Dan Tinggi

Itu gres sedikit citra soal Angciu, masih banyak pertanyaan mengendap, karenanya nanya Simbah Google. Dan ketemu beberapa link, diantaranya sebagai berikut. Narti ambil pokok-pokoknya saja ya, kalau mau lebih lengkap silakan baca disana langsung.

Berikut ini artikel Narti ambil dari (source : LP POM MUI)

Pertanyaan:
Apakah angciu atau red wine yg digunakan untuk memasak hukumnya halal?

Jawaban:

Penggunaan arak dalam kuliner itu tampaknya sudah melekat, sulit dipisahkan. Banyak kegunaan yg diperlukan dari barang haram tersebut. Kegunaan pertama ialah melunakkan jaringan daging. Para juru masak meyakini bahwa daging yg direndam dalam arak akan menjadi empuk dan enak. Oleh alasannya ialah itu daging yg akan dipanggang atau dimasak dalam bentuk tepanyaki seringkali direndam dalam arak.

Selain itu arak juga menghasilkan aroma dan flavor yg khas, yg oleh para juru masak dianggap sanggup mengundang selera. Aroma itu muncul pada ketika kuliner dipanggang, ditumis, digoreng, atau jenis kuliner lainnya. Munculnya arak itu memang menjadi salah satu ciri kuliner Cina, Jepang, Korea dan kuliner lokal yg berorientasi pada arak.

Jenis arak yg digunakan dalam banyak sekali kuliner itu bermacam-macam, ada arak putih (pek be ciu), arak merah (ang ciu), arak mie (kue lo ciu), arak gentong, dan lain-lain. Sedangkan untuk kuliner Jepang kita mengenal adanya mirin dan sake yg sering ditambahkan dalam hidangan mereka. Produsennya pun beragam, ada yg diimpor dari Cina, Jepang, Singapura, bahkan banyak pula buatan lokal dgn menggunakan perasan tape ketan yg difermentasi lanjut (anggur tape). Penggunaan arak ini pun beragam, mulai dari restoran besar, restoran kecil bahkan warung-warung tenda yg buka di pinggir jalan.

Baca Lanjutan:  Resep Kacang Telur Renyah Oleh Juna

Keberadaan arak ini masih jarang diketahui oleh masyarakat. Sementara itu ada kesalahan pemahaman di kalangan pengbisnis atau juru masak yg tidak menganggap arak sebagai sesuatu yg haram. Apalagi dalam proses pemasakannnya arak tersebut sudah menguap dan hilang. Sehingga anggapan itu menjadikan mereka tidak merasa bersalah ketika menghidangkan kuliner itu kepada konsumen Muslim.

Anggapan itu tentu saja perlu diluruskan alasannya ialah dalam Islam aturan mengenai arak atau khamr ini sudah cukup jelas, yaitu haram. Bukan saja mengkonsumsinya tetapi juga memproduksinya, mengedarkannya, menggunakan manfaatnya, bahkan menolong orang untuk memanfaatkannya. Nah, ini tentunya menjadi peringatan bagi kita semua biar lebih berhati-hati dalam membeli masakan, sekaligus juga menjadi perhatian bagi para pengelola restoran yg menjual produknya kepada masyarakat umum biar tidak menggunakan arak tersebut.

Dari artikel di atas sudah cukup jelas, Narti masih mencari dari sumber lain. Berikut ini artikel Narti ambil dari http://formmit.org/halalicious/302-kita-terkepung-makanan-haram.htmlindex.php?&cal_offset=6n (yg diambil dari http://swaramuslim[dot]com)

Barang haram ada dimana-mana. Tidak ada pengawasan yg ketat. Label halal perlu, tetapi yg lebih perlu ialah ‘label haram’ Yang haram kan babi,” begitu kata seorang pemilik restoran populer di Jakarta. “Nggak ada baygan-baygan bahwa hal lain pun sanggup dikategorikan haram, selain babi.

Baca Lanjutan:  Resep Cara Menciptakan Bolu Kukus Gula Merah Merekah

Tidak heran, restoran tersebut hingga ketika ini masih menggunakan ang chiu. Ini kan bukan babi, jadi halal, begitu logikanya. Padahal Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) jelas-jelas mengkatagorikan zat homogen arak itu sebagai barang haram. “Di dalamnya mengandung khamr. Makanan yg sengaja menggunakan materi itu tidak halal,” ujar Aisyah Girindra, Direktur LPPOM MUI. Menurut penelitian Nurwahid, spesialis Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ang chiu mengandung unsur alkohol hasil fermentasi. “Kadarnya sebanyak 15%,” ujarnya.

Jangan dibaygkan bahwa ang chiu cuma beredar di restoran populer atau rumah makan besar. Nasi goreng pinggir jalan pun kebanyakan menggunakannya. Ini contohnya sanggup dijumpai di tempat Tangerang (Jabar).

Wajan yg digunakan untuk memasak, jikalau menggunakan angciu biasanya menyala.

Referensi:

http://formmit.org/halalicious/302-kita-terkepung-makanan-haram.htmlindex.php?&cal_offset=6n

Untuk itu, kita mesti hati-hati dan lebih teliti lagi jikalau membeli kuliner di luar. Untuk memasak sendiri, membaca resep kita juga mesti lebih teliti lagi.
Semoga bermanfaat!


Sumber http://dapurpunyaku.blogspot.co.id/