Resepmakanan.me
Resepmakanan.me

Kandungan Minyak Atsiri Jahe Segar Dan Jahe Kering

Diposting pada
Kandungan Minyak Atsiri Jahe Segar Dan Jahe Kering

ATSIRI JAHE SEGAR DAN JAHE KERING

 
     Jahe (Zingiber officinale var emprit) ialah salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia yg menawarkan peranan cukup berarti dalam penerimaan devisa negara. Daya guna materi ini sangat dekat hubungannya dgn komponen bioaktif yg terkandung didalamnya. Kualitas dan kuantitas minyak atsiri jahe emprit segar dan simplisia jahe kering dilaporkan guna memberi informasi kepada masyarakat mengenai imbas dari pasca panen. Total minyak atsiri diperoleh melalui destilasi Stahl selama ± 6 jam, sedangkan analisis komponen minyak atsiri dilakukan dgn GC-MS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kadar minyak atsiri jahe segar dan simplisianya masing-masing 3,71% (v/w) dan kadar 0,94 % (v/w). Data GC-MS memperlihatkan bahwa jahe segar mempunyai jenis minyak atsiri lebih banyak daripada jahe kering, selain jumlah zingiberinenya lebih dominan. Hasil penelitian sanggup menawarkan informasi kepada masyarakat bahwa jahe segar lebih baik dibandingkan dgn simplisia jahe kering.
 
     Nilai perdagangan obat herbal, embel-embel masakan di dunia pada tahun 2000 mencapai 40 milyar USD. Pada tahun 2002 meningkat menjadi 60 milyar USD dan pada tahun 2050 diperkirakan menjadi 5 triliun USD dgn peningkatan 15% per tahun. Jahe (Zingiber officinale) ialah salah satu dari lima komoditas andalan Indonesia (Anonim, 2007).
 
Bahan baku obat alam ini mempunyai beberapa kegunaan ibarat sanggup untuk sakit sakit gigi, malaria, rematik, sembelit, batuk, kedinginan dan sumber antioksidan (Chrubasik, 2005; Al Amin, 2006; Ehlisch, 2008; El-Baroty, 2010). Aktivitas-aktivitas tersebut pada umumnya disebabkan oleh adanya senyawa bioaktif yg terkandung dalam rimpang jahe, ibarat senyawa phenolic (shogaol dan gingerol) dan minyak atsiri, ibarat bisapolen, zingiberen, zingiberol, curcurmen, 6-dehydrogingerdion, galanolakton, asam gingesulfonat, zingeron, geraniol, neral, monoakyldigalaktosylglykerol, gingerglycolipid (Kemper, 1999).
 
Senyawa zingeberen, ialah senyawa yg sangat penting mengingat akan menawarkan aroma pedas pada jahe (Muhamed, 2007). Beberapa senyawa bioaktif yg tekandung dalam jahe tersebut sanggup diperoleh dari beberapa varitas, ibarat jahe gajah, jahe merah dan jahe emprit. Dari ketiga jehe tersebut, jahe emprit (Zingiber officional var. Amarum) ialah komoditas unggulan yg paling diminati oleh masyarakat. Konsumsi jahe sebagai materi baku herbal bersumber dari jahe segar maupun jahe yg telah dikeringkan (selanjutnya disebut simplisia kering). Masyarakat luas lebih menentukan jahe segar mengingat organoleptis (khususnya bau) dari jahe segar lebih baik daripada simplisia kering. Dalam ilmu kimia, perbedaan tersebut ditandai dgn perbedaan komposisi minyak atsiri yg terkandung didalamnya. Bukti laboratorium yg mencoba memberi dasar ilmiah kebiasaan masyarakat tersebut sangat penting dilakukan dalam rangka menunjang Program Saintifikasi Jamu di Indonesia (Permenkes No 003/MENKES/PER/I/2010).
 
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat

Bahan yg dipakai Bahan baku jahe emprit segar diperoleh dari Pengepul di Pasar Bitingan Plasa Kudus, sehabis sehari panen yg kemudian dilakukan perlakuan penelitian..
Peralatan utama yg dipakai Timbangan analitik, seperangkat alat destilasi Stahl dgn kapasitas 500 ml, GC-MS QP2010S Shimadzu. Kondisi operasional GC-MS. Kolom Rastek RXi-5MS panjang 30m, Kondisi GC, suhu kolom 60 oC-300 oC, tingkat laju 10 oC per menit, hold pada 60 oC untuk 5 min, hold pada 290 oC untuk 62 min, kolom awal suhu 60 oC, injeksi suhu 300 oC, interface suhu 300 oC, pembawa gas helium, Total Flow 81.5 mL/min, Split Ratio :153.0.
Preparasi sampel
Sampel jahe dicuci terlebih dahulu hingga higienis dari tanah yg masih menempel, kemudian dilakukan penimbangan. Kemudian dibagai menjadi 2 bagian:

Sampel A

Sebanyak 120 gram jahe segar diiris tipis melintang dan kemudian dilakukan distilasi Stahl selama ± 6 jam, untuk memperoleh data kuantitatif minyak atsiri. Kemudian minyak atsiri hasil distilasi diambil dgn pipet, kemudian ditampung dalam botol vial untuk kemudian dianalisis kualitatif dgn GC-MS.
Sampel B
Sebanyak 120 gram dikeringkan dgn dipanaskan pada panggangan suhu 50 oC selama 5 hari selanjutnya disebut sampel B, kemudian diiris tipis melintang sehabis itu didestilasi Stahl selama ± 6 jam. Untuk memperoleh data kuantitatif minyak atsirinya. Selanjutnya minyak atsiri hasil destilasi dianalisis dgn GC-MS.
Penentuan kadar air sampel.
Sampel yg sudah dibersihkan, dipotong tipis melintang kira-kira 1-5 mm ditimbang sebanyak 10 gram kemudian ditentukan kadar airnya dgn metode distilasi, sesuai dgn SNI simplisia jahe (2006).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dampak pengeringan jahe dilakukan dgn membandingkan jahe segar dgn jahe kering, masing-masing dilakukan penentuan jumlah minyak atsiri dan sekaligus pengambilan minyak atsirinya untuk keperluan kualitatif. Jenis peralatan distilasi uap yg dipakai untuk keperluan ini ialah distilasi stahl. Analisis kualitatif minyak atsiri yg dihasilkan dianalisis struktur kimianya dgn GC-MS.
 
Pengeringan rimpang jahe dgn oven
Pengeringan rimpang jahe dilakukan untuk mendapat simplisia kering, alat yg yg dipilih ialah oven. Pemanasan jahe sanggup berjalan optimal pada suhu 50 oC (Abeysekera and Illeperuma, 2005). Pada penelitian ini, pengeringan jahe dilakukan terhadap rimpang jahe utuh. Berat jahe dari hasil pengeringan (sampel B) ialah 23,3940 g (19,5 %) dgn kadar air 9,0 %. Faktor susut berat jawaban proses pengeringan panggangan ini ialah 5,13 (dari 120 g menjadi 23.3940). Harga 1kg jahe segar di pasar tradisional ialah Rp. 13.000,- sedangkan simplisia kering ialah Rp. 50.000,- (perbedaannya hanya 3,85 kali, lebih kecil daripada faktor susut yg seharusnya dijual dgn harga minimal Rp. 67.000,-). Dari segi harga, ini sudah sanggup dipastikan bahwa para pedagang telah memahami bahwa kualitas simplisia kering tidak sebaik jahe segarnya.

Jumlah minyak atsiri sampel
Sesuai dgn SNI, minyak atsiri dalam sampel jehe dilakukan melalui destilasi Stahl, yg ialah rangkaian alat dgn prinsip steam distillation. Sesuai aturan Roult, penambahan uap air akan menjadikan titik didih gabungan minyak atsiri-air akan lebih kecil daripada 100oC (Cahyono, 2011).
Pemisahan minyak atsiri dari rimpang jahe segar lebih cepat dibandingkan dgn destilasi jahe yg dikeringkan, waktu yg dibutuhkan untuk memperoleh tetesan pertama minyak atsiri jahe segar 25 menit. Hasil yg diperoleh dari metode pemisahan minyak atsiri dgn memakai destilasi uap, baik jahe segar maupun jahe kering berwarna coklat kekuningan. Hasil analisis kuantitatif memperlihatkan bahwa, dari berat segar yg sama, minyak atsiri yg diperoleh dari jahe segar jauh lebih banyak dibanding dgn simplisia jahe kering (tabel 1). 
Penting dicatat bahwa hasil-hasil ini sangat kontradiktif dgn kesimpulan penelitian yg pernah dilakukan oleh Famurewa dkk. (2011), yg mencoba membandingkan jahe segar dan jahe yg telah dikeringkan, tetapi tanpa membandingkan berat masing-masing sampel dari keadaan segarnya serta tidak melaporkan kadar airnya. Hasil analisis ini juga sanggup memperlihatkan bahwa sampel jahe Indonesia lebih baik daripada sampel yg berasal dari Cina maupun Thailand, masing-masing mempunyai kadar 0,98% dan 1,57% (Sutanet al., 2005). Dalam penelitian ini,adanya perbedaan sekitar 2,77% antara jahe segar dan simplisia keringnya diduga sangat dekat hubungannya dgn hilangnya dalam minyak atsiri bersama uap air selama proses pengeringan. Data-data ini sanggup menawarkan suatu bukti dari kebiasaan masyarakat yg lebih menyukai jahe segar daripada simplisia keringnya.

Analisis penyusun minyak atsiri jahe segar dan simplisia kering
Analisis senyawa kimia yg terdapat didalam minyak atsiri jahe segar dan jahe kering dgn GC-MS, perbandingan kromatogram dari kedua sampel minyak atsiri sanggup dilihat pada Gambar1.

Sumber : http://jaheindonesia.com/berita-atsiri-jahe-segar-dan-jahe-kering.html
 
Sumber http://kebunjaheindonesia.blogspot.co.id