Pengolahan Jahe Emprit

Diposting pada

 komoditas petani ini tidak  terpasarkan Pengolahan Jahe Emprit

Pengolahan Jahe Emprit

Produksi jahe emprit tahun 2008 melebihi kapasitas permintaan. Akibatnya, di beberapa daerah di Lampung, komoditas petani ini tidak terpasarkan. Petani tertarik menanam jahe emprit, dgn cita-cita harga jualnya bisa lebih tinggi dibanding jahe gajah. Mereka tidak tahu bahwa pasar jahe emprit segar sangat terbatas.

Meskipun harganya lebih murah, pasar jahe gajah segar hampir tanpa batas, terutama untuk ekspor. Selain hanya bisa dipasarkan di dalam negeri, penyerap terbesar jahe emprit hanyalah industri. Namun agroindustri jahe di Indonesia, masih sebatas pada proses pengolahan hingga menjadi serbuk sebagai materi baku permen dan minuman jahe. Umumnya produsen permen dan minuman jahe masih berupa industri kecil, dgn serapan materi baku yg juga sangat terbatas. Inilah hambatan utama penyebab tidak terpasarkannya jahe emprit dari tangan petani.

Di Indonesia, paling tidak dikenal tiga varietas jahe: jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah. Rimpang jahe gajah berukuran paling besar, dgn rasa pedas dan aroma (kandungan minyak asiri) rendah. Jahe emprit berukuran paling kecil, dgn rasa padas dan aroma sangat kuat. Jahe merah berukuran sedang, wana kulit ungu kemerahan, rasa pedas dan aroma sedang. Jehe gajah paling banyak dibudidayakan, alasannya yakni pasarnya paling luas, produktivitasnya juga paling tinggi. Jahe emprit produktivitasnya paling rendah, tetapi potensial dibudidayakan untuk agroindustri. Jahe merah paling sedikit dibudidayakan, alasannya yakni pasarnya yg sangat terbatas, hanya untuk jamu.

Baca Lanjutan:  Manfaat Dan Manfaat Jahe Untuk Kesehatan Dan Kecantikan

Jahe emprit hanya bisa dipanen pada umur di atas embilan bulan. Beda dgn jahe gajah yg bisa dipanen rebung, maupun jage mudanya. Jahe gajah muda yakni materi asinan jahe (pickle). Ada dua macam asinan jahe, yakni asinan jahe cina dan asinan jahe australia. Sebutan ini dipakai alasannya yakni adanya perbedaan dalam proses pembuatannya.  Jahe cina sendiri dibedakan menjadi beberapa kualitas.  yakni 1 Young Stem Ginger; 2 Choise Selected Stem Ginger; 3 Fingers; 4 Cargo Ginger; 5 Skins, Shavings, Tops dan Tails.
Produk asinan jahe, masih bisa dioleh lebih lanjut menjadi manisan jahe, kemudian kristal jahe (manisan kering bertabur gula).  Jahe emprit tidak feasible untuk dipanen muda sebagai materi asinan. Hingga jahe emprit tua, harus diolah lebih lanjut menjadi Scraped ginger, yakni rimpang jahe yg dikupas, dipotong, kemudian dikeringkan. Coated gingger, yakni jahe tanpa dikupas pribadi diiris dan dikeringkan. 3 Bleached ginger, yakni jahe kupas, dicelupkan ke dalam air kapur, gres diiris dan dikeringkan. 4 Black ginger, yakni jahe utuh tanpa dikupas, dicelupkan ke dalam air mendidih kemudian dikeringkan.

Bagi para petani kita, pengolahan jahe emprit menjadi Coated gingger, paling dianjurkan. Selain proses ini paling sederhana, kesudahannya berupa keripik (chips) jahe, bisa diolah lebih lanjut menjadi serbuk jahe, melalui proses penggilingan. Pengolahan jahe emprit menjadi Black ginger, memang lebih sederhana, alasannya yakni idak disertai proses pengirisan. Namun pengeringan dan juga penggilingan Black ginger memerlukan waktu lebih lama. Modal untuk mengolah jahe emprit segar menjadi Coated gingger, hanyalah kolam pencucian, rak penirisan, unit pengirisan dgn alat iris manual menyerupai perajang keripik pisang/singkong, dan rak penjemuran.

Baca Lanjutan:  Jual Ekstrak Herbal Lakomedo Balikpapan

Dalam proses pengolahan jahe emprit segar menjadi Coated gingger, tidak diharapkan alat pengering buatan (dryer). Sebab panen jahe selalu terjadi pada animo kemarau, dgn sinar matahari penuh sepanjang hari. Hingga pengeringan irisan jahe Coated gingger, cukup memakai rak dgn dasar anyaman bambu (widig), sebagai ganjal penjemur.  Dalam waktu dua hingga tiga hari, irisan rimpang jahe sudah akan mengering. Produk Coated gingger ini selanjutnya digiling dgn penggilingan (penepung) biasa, hingga menjadi serbuk jahe.

Serbuk jage inilah yg kemudian diolah lebih lanjut menjadi oleoresin dan minyak asiri. Minyak asiri jahe, yakni minyak hasil penyulingan (destilasi), serbuk jahe emprit. Oleoresin jahe yakni proses ekstraksi serbuk jahe emprit, hingga menjadi cairan pekat dgn aroma dan rasa pedas jahe. Beda gingger oil dgn gingger oleoresin adalah, minyak asiri hanya mengambil aroma jahe, oleoresin mengambil aroma plus rasa pedasnya. Proses pengolahan serbuk jahe emprit menjadi minyak asiri, relatif lebih sederhana, dibanding dgn pengolahan oleoresin. Pemasaran minyak asiri jahe, juga lebih gampang dibanding dgn pemasaran oleoresin.

Baca Lanjutan:  Cara Masak Nasi Goreng Cabai Hijau

Secara teknis, proses pengolahan jahe emprit segar menjadi Coated gingger, serbuk jahe, hingga ke minyak asiri, bisa dilakukan oleh petani. Yang menjadi masalah, modal petani selalu pas-pasan. Setelah panen jahe, petani selalu berharap segera mendapatkan uang cash, berapa pun nilainya. Untuk ituah diharapkan koperasi, yg beranggotakan petani. Koperasi inilah yg akan mengupayakan modal, hingga bisa membayar cash ke petani, kemudian mengolah jahe emprit segar hingga menjadi minyak asiri, yg dgn nilai tambah lebih baik. (Foragri).

Sumber : http://www.agrosukses.com/artikel–info/43/pengolahan-jahe-emprit.html


Sumber http://kebunjaheindonesia.blogspot.co.id